Pesantren Mana Yang Bagus?
"Ustadz, pesantren mana yang antum rekomendasikan buat anak saya?".
"Apa ustadz buka pesantren? Saya ingin masukkan anak saya di pesantren ustaz".
"Ustadz, pesantren anu dan anu itu gimana ya, bagus nggak? "
Begitulah saya sering menerima pertanyaan dari para orang tua yang punya anak.
Tidak sedikit orang tua yang ketika memasukkan putera puteri mereka ke pesantren dan sekolah berlabel Islam, ternyata tujuannya tidak selalu ingin anaknya menjadi ulama yang paham syariah.
Biasanya targetnya tidak muluk-muluk, minimal punya pergaulan yang terjaga, tidak tawuran, narkoba atau seks bebas. Dan semua itu dijamin -kata mereka- lewat pendidikan berlabel Islam, seperti pesantren dan IAIN.
Kesannya, kalau anak kita sekolah di sekolah umum, seperti SD, SMPN dan SMAN, seolah-olah pasti jadi korban narkoba dan pergaulan bebas. Itu yang saya tangkap dari banyak teman yang ribut ingin memasukkan putera-puteri mereka ke pesantren dan minta rekomendasi dari saya.
Biasanya saya malah menjawab begini : belum tentu pendidikan umum seperti SD, SMP dan SMA itu pasti melahirkan anak-anak yang tidak islami.
Buktinya saya sendiri, saya tidak pernah duduk di Tsanawiyah, Aliyah ataupun IAIN. Saya memang lulus Madrasah Ibtidaiyah sore, paginya SD. Lulus SD, saya masuk SMP dan SMA dan bukan pesantren. Tetapi saya tidak jadi pecandu narkoba, atau ikut pergaulan bebas, apalagi ikut tawuran seperti yang banyak dikhawatirkan orang tua itu.
Malah waktu di SMP saya aktif di OSIS bagian kerohanian Islam, sibuk bikin pengajian sekolah. Begitu juga di SMAN 3 Jakarta, tiap hari sibuk di Mushalla-nya, sampai dapat julukan 'cicak mushalla', saking rajinnya ke mushalla. Meski jam 12 teng sudah boleh pulang, tetapi sampai rumah lepas isya'. Kemana aja? Ya, asyik dengan beragam aktifitas rohis SMAN 3 Jakarta..
Lulus SMA saya tidak masuk IAIN walaupun ketika ikut ujian penerimaan termasuk yang diterima. Tetapi saya malah kuliah di UGM. Nah, di UGM ini ada yang namanya Jamaah Shalahuddin. Isinya yang lusinan aktifitas keislaman. Sampai saya lebih rajin ngaji dari pada kuliah. Malah sudah jadi murobbi, tiap hari ngisi halaqoh, dan tiap akhir pekan sibuk mengisi daurah ke luar-luar kota.
Saya baru rada serius belajar ilmu-ilmu keislaman ya ketika keluar UGM dan masuk LIPIA. Disitulah saya belajar bahasa Arab yang sesungguhnya. Gurunya langsung orang Arab yang memaksa saya bicara bahasa Arab fushah, harus bisa baca kitab gundul dengan pemahaman yang benar. Alhamdulillah, bahasa Arab sebagai modal awal bisa dikuasai dengan mudah.
Dan baru di LIPIA itulah saya benar-benar belajar ilmu syariah, seperti fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, dst. Pengajarnya tidak main-main, mereka adalah profesor dan doktor yang memang benar-benar pakar dalam bidangnya. Dan alhamdulillah, banyak ilmu yang saya dapat dengan sepenuh kesadaran, bukan sepenuh tekanan macam di pesantren.
Dari dari sisi kulitas, yang saya pribadi rasakan kok rasanya jauh sekali kualitasnya dengan apa yang pernah saya dapat di pesantren dulu. Oh ya, saya sempat juga sih masuk pesantren Tebuireng, tetapi cuma betah 3 hari doang hehe. Mungkin karena kapasitas pengajarnya berbeda. Atau karena faktor niatnya.
Biasanya, anak-anak ketika masuk pesantren itu masih belum punya motivasi, buat apa belajar semua ilmu agama ini. Beda dengan saya, ketika masuk LIPIA dan meninggalkan UGM, niat saya sudah jelas, ingin belajar ilmu syariah. Sebab saya ini seorang murobbi, punya belasan halaqah, terlanjur jadi ustadz, tetapi tidak punya 'apa-apa'.
Persis pepatah arab bilang, 'faqidusy-syai'i la yu'thihi'.
Maka dengan semangat '45, kuliah di LIPIA saya jalani serius, tidak kurang dari 7 tahun lebih. Memang saya termasuk 'barang langka' di LIPIA. Semua teman rata-rata jebolan pesantren, cuma saya yang dari SMA. Tetapi ada juga teman saya malah jebolan STM.
Lulus LIPIA saya malah 'dipaksa' untuk menjadi 'ustadz menjawab'. Kerjanya tiap hari menjawab pertanyaan syariah. Hehe, tidak pernah masuk pesantren tapi malah tiap hari berkutat dengan kitab syariah.
Lalu apa kabar teman-teman seangkatan saya yang dulu sekolah di madrasah, pesantren dan IAIN? Apakah mereka sudah jadi ulama?
Sebagian ada yang sudah jadi pebisnis, ada yang kerja jualan sebagai sales MLM, ada juga yang bisnis travel haji/umroh, ada yang buka usaha ikan hias, sedot wc, pasang parabola, buka pelayanan ruqyah, bekam dan pijat refleksi dst. Minimal semua jadi orang shalih sesuai harapan minimal orang tua masing-masing, alhamdulillah.
Tetapi kok nggak ada yang jadi ulama ya?